Kamis, 11 April 2013

Hiduplah untuk Hidup (1)


Seorang bocah bertelanjang kaki berjalan menyusuri kali dekat rumah untuk menikmati kesendiriannya hidup di pelosok desa. Ia bukan anak pemberani untuk menyebrang kali yang arusnya cukup deras tapi dia juga bukan anak manja yang harus menanti di rumah apa yang ia inginkan.
Sebagai anak tunggal ia merasa bersyukur bisa menikmati kasih saying yang utuh dari kedua orang tuanya. Tapi ia juga layak iri dengan teman sebayanya yang memiliki kakak yang melindungi maupun adik yang mengganggu.
Yap. Hari itu ibunya pergi ke pasar untuk berjualan. Bukannya apa apa itu semua untuk mengisi perut saja. Bocah kecil itu tahu penderitaan -pengorbanan tepatnya- ibunya yang mengidap penyakit entah apa namanya tapi beliau tetap menempuh perjalanan ke pasar.
Ini baru awal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar